PENANAMAN CRITICAL THINKING MELALUI KAIDAH-KAIDAH USHUL FIQIH

Oleh: Kiki Rizqiah

Pendahuluan

Dari tahun ke tahun, sistem pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan baik dari sisi kurikulum, implementasi, maupun capaiannya. Hal ini disebabkan salah satunya adalah perkembangan kehidupan yang disertai dengan kebutuhan-kebutuhan pokoknya, antara lain; informasi, teknologi, dan budaya. Perubahan-perubahan sistem ini tentu dilandasi oleh urgensi sumber daya manusia yang kian meningkat, atau yang lebih tepatnya bisa disebut kebutuhan mental generasi. Pemerintah dalam hal ini tidak henti-hentinya melakukan regulasi demi ketercapaian tersebut.

Disadari atau tidak, sistem yang telah berjalan di periode sebelum hari ini hampir merujuk pada penekanan pemahaman siswa secara tekstual. Bagaimana siswa mampu menjawab pertanyaan- pertanyaan guru sesuai dengan teks-teks yang ada di dalam buku, dan mengevaluasinya dengan memunculkan angka-angka yang telah menjadi indikator hasil pembelajaran. Namun seiring berjalan waktu, pembacaan terhadap teks-teks tersebut lambat laun coba diperluas. Siswa tidak lagi harus bergantung pada narasi-narasi dalam buku. Belum lagi maraknya media digital yang hari ini semakin memudahkan siswa dalam menggali berbagai informasi secara instan. Perjalanan dari kurikulum KTSP menuju K13 hingga sampai tahun ini menjalar pada implementasi kurikulum merdeka, dapat dipotret bagaimana para ahli mulai mengarahkan generasi siswa-siswi menuju melek penalaran sedari usia dini. Mereka cenderung banyak dihadirkan fenomena-fenomena yang tidak dapat dijumpai secara langsung dalam teks. Siswa dituntut mampu berpikir kritis, menghidupkan pikirannya dengan pembacaan-pembacaan pengalaman maupun pengetahuannya yang lintas pelajaran. Adanya teks-teks di dalam buku pembelajaran difungsikan sebagai pemantik agar mampu berpikir lebih lebar dan jauh.

Ruang lingkup capaian tersebut dinamakan critical thinking, atau berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis merupakan potensi yang harus dikembangkan setiap individu, tidak terkecuali siswa ketika berada di sekolah. Namun diakui atau tidak, istilah critical thinking masih belum banyak dikenal di benak pendidik. Terdapat beberapa ahli yang pernah menjelaskan pengertian critical thinking ini, di antaranya Beyer dalam Zubaedah (2010), yang menjelaskan critical thinking adalah penyimpulan suatu kualitas dari kegiatan yang dilakukan sehari-hari sampai pada penyusunan kesimpulan yang digunakan untuk mengevaluasi kebenaran. Jumaisyaroh, dkk (2015:88) juga mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah krmampuan seseorang berpikir efektif yang membuatnya bisa menilai serta mengambil kesimpulan untuk memutuskan apa yang ia pahami dan lakukan.

Sejauh ini, penekanan pendidikan yang mengarah pada konsep critical thinking memang belum begitu masif. Terlebih bagi sekolah-sekolah yang lamban secara manajemen dan pengelolaan. Padahal, membincang tentang potensi, sebenarnya sekolah-sekolah swasta dengan pengelolaan mandirinya lebih memiliki keluwesan dalam mengembangkan model kurikulum dan pembelajarannya, termasuk sekolah-sekolah berbasis Islam yang berada dalam naungan LP Ma’arif NU. Sekolah yang berada dalam naungan lembaga Nahdlatul Ulama ini justru mendapat modal besar untuk mengembangkan critical thinking. Nahdlatul Ulama sejauh ini erat kaitannya dengan keberadaan pesantren yang menjadi kiblat sentralnya. Dan tentunya, tidak ada peaantren yang tidak mengajarkan kitab kuning sebagai alah satu rujukan terkuatnya.

Salah satu kitab pesantren yang dapat dijadikan sebagai perangkat awal membentuk critical thinking siswa adalah kitab ushul fiqih. Ali bin Abi Ali bin Muhammad Al Amidi (1972) mendefinisikan usul fiqih adalah dalil-dalil fiqih yang arah dilalahnya atas hukum-hukum syariat. Sementara Abdul Wahab Khallaf (1958) menyatakan bahwa usul fiqih adalah ilmu tentang kaidah dan pembahasan-pembahasan yang dijadikan sarana memperoleh hukum syara’ mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya secara terperinci.

Secara global, usul fiqih merupakan cikal bakal yang melatarbelakangi sebuah hukum dalam fiqih dibakukan. Usul fiqih merupakan pondasi pemikiran yang bersifat ijmali (kompleks) sebelum mengerucut pada penyimpulan koridor keputusan. Di antara tujuan usul fiqih sendiri adalah untuk mengetahui dalil-dalil yang dimenangkan ketika terjadi pertentangan antara satu dalil dengan dalil lainnya. 

Salah satu kitab mashur yang dikenal menyangkut Usul Fiqih adalah kitab Mabadi Awaliyah yang dikarang oleh Syaikh Abdul Hamid Hakim.

Kontekstualisasi Kaidah Ushul Fiqih Dalam Membentuk Critical Thinking Siswa

Dalam paparan ini, penulis menyajikan beberapa kaidah yang termuat dalam kitab Mabadi Awaliyah sebagai acuan dasar. Kaidah-kaidah yang dikutip penulis adalah yang ditengarai memiliki kedekatan dengan kondisi psikologi siswa sekolah dasar.

Tahap-tahap untuk memulai kontekstualisasi ini adalah bagaimana guru mampu memahami substansi dari kaidah yang dimaksud, sehingga mampu memunculkan contoh-contoh logis dalam kehidupan sehari-hari yang dialami oleh siswa. Atau bisa juga guru memberikan 2 permasalahan atau lebih untuk bisa dipilih siswa dengan mengacu pada kaidah yang disebutkan.

Kaidah 1

مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً

“Sesuatu yang banyak aktifitasnya, akan banyak pula keutamaannya”. 

Kaidah 2

مَا لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ كُلُّهُ

“Apa yang tidak bisa dilakukan secara keseluruhan, jangan ditinggalkan seluruhnya”.

Kaidah 3

مَا حَرَمَ فِعْلُهُ حَرَمَ طَلَبَهُ

“Apa yang diharamkan melakukannya, diharamkan pula mencarinya” 

Kaidah 4

مَا حَرَمَ أَخْذُهُ حَرَمَ إِعْطَاءُهُ

“Apa yang diharamkan mengambilnya, diharamkan pula memberikannya” 

Kaidah 5

الرِّضَا بِالشَّيْئ رِضَا بِمَا يَتَولَّدُ مِنْهُ

“Rela terhadap sesuatu, berarti rela terhadap apa yang ditimbulkannya”

Penanaman Critical Thingking melalui kaidah-kaidah Usul Fiqih.

Pembentukan karakter nyatanya tidak cukup hanya dengan pemberian teladan, jika tidak disertai dengan penanaman nilai-nilai moral. Seorang siswa terbentuk karakternya melalui proses pembelajaran sepanjang hayatnya. Kaidah Ushul Fiqih menjadi landasan berfikir kritis para peserta didik dalam mengatasi segala permasalahan sehari-hari dengan keilmuan. Contoh pengarahan penyelesaian masalah pada kaidah-kaidah yang telah disebutkan yakni :

Kaidah 1

Pengelolaan waktu menjadi hal yang penting dalam beraktifitas. Jam istirahat adalah hal yang baik bila digunakan untuk bermain atau pun makan dan minum, namun memanfaatkan waktu istirahat sambil membaca buku dapat memperoleh keutamaan yang lebih.

Kaidah 2

Pengenalan hukum ibadah memang harus sejak sedini mungkin diajarkan, meskipun puasa belum memiliki hukum wajib untuk kelas 1 namun guru dapat memotivasi peserta didik dengan berusaha melakukan puasa setengah hari atau semampunya tanpa meninggalkan sama sekali puasanya tanpa alasan.

Kaidah 3

Mencari-cari nama orangtua teman untuk mengolok-ngolok termasuk memanggil teman dengan sebutan yang tidak baik. Perilaku ini tidak hanya dapat menyakiti namun mendatangkan kerugian bagi diri sendiri.

Kaidah 4

Mengambil hak milik orang lain untuk membantu teman adalah haram keduanya. 

Kaidah 5

Kerelaan siswa belajar pada lembaga pendidikan yang telah dipilihnya maka harus disertai dengan melaksanakan kepatuhan-kepatuhan dengan seluruh peraturan yang ada.

Penutup

Karakter bukan bawaan lahir melainkan bentukan terus-menerus dari lingkungan. Penilaian karakter akan timbul dari berbagai pola pandang dan pikiran bagaimana seorang siswa mampu menyelesaikan permasalahan sehari-hari disekitar. Mabadiul Fiqih dekat kaitannya mengarahkan siswa berfikir kritis dengan dasar keilmuan Ushul Fiqih. Beberapa kaidah yang diambil sebab penulis memandang relevan dengan permasalahan yang sering timbul diberbagai lembaga pendidikan dalam proses awal pembentukan karakter yakni : مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً, مَا لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ كُلُّهُ, مَا حَرَمَ فِعْلُهُ حَرَمَ طَلَبَهُ, مَا حَرَمَ أَخْذُهُ حَرَمَ إِعْطَاءُهُ, الرِّضَا بِالشَّيْئ رِضَا بِمَا يَتَولَّدُ مِنْهُ. Dengan beberapa contoh penyelesaian masalah yang telah disebutkan, penulis berharap bahwa nantinya peserta didik mampu terbiasa berfikir kritis secara otomatis dan sadar untuk waktu yang tidak terbatas.

 

Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih (Jakarta: Al Majlis al a’la al Indonesia li al dakwah al Islamiyah, 1972) hal.11

Abu Zahrah, ushul fiqih (Mesir. Darul Fikri al Arabyu, 1958) dikutip oleh Alaidin Koto, op.cit.hal.4 A.P.K. Harahap. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kritis. 2019. doi.10.31219/osf.io/ jywdh

Mabadi Awaliyah, Abdul Hamid Hakim. Maktabah As Sa’diyah Putra Jakarta

  1. Ambarsari. Pengajaran Berpikir Kritis. 2017

Ramli. Ushul Fiqih. Nutu Media; Yogyakarta. 2021.

Nasrun Haroen, Ushul Fiqih I (Jakarta. PT. Logos Wacana Ilmu, 1997. hal. 5-6

86 Pembaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *