Menggugah Sumenep Melalui Literasi dan Guru Kompeten

Catatan laporan kegiatan pendampingan fasilitasi oleh Sunan Fanani sekretaris PW LP Maarif NU Jawa Timur di kabupaten Sumenep 22-23 Juni 2019.

Kabupaten Sumenep sebagai daerah paling timur di Pulau Madura memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang luar biasa. Lahan pertanian yang subur dan hasil laut yang melimpah serta budaya sosio-religius dengan karakter adat yang sangat kental suasana tradsional.

Daerah Sumenep di bagi dengan daratan dan kepulauan yang berbatasan dengan perairan pulau Kalimantan atau Sulawesi.

Hal ini tergambar dari PDRB Sumenep yang memiliki 22 Trilyun pendapatan dengan 8 trilyun berbasis sumber daya energi.

Potensi indeks pembangunan manusia (IPM) kabupaten sumenep menurut BPS 2017 merupakan daerah kedua yang memiliki IPM teringgi di pulau Madura setelah pamekasan. Pada tahun 2017 IPM Sumenep adalah 64.28 % yang memiliki kategori rendah dibanding daerah lain di propinsi Jawa Timur yang rata-rata IPM nya diatas 80 %.
Problem terbesar yang menghambat IPM kabupten Sumenep adalah tingkat pendidikan yang belum maksimal.

Saat ini masih ditemukan kondisi kesulitan belajar anak didik dari sisi kemapuan membaca, menulis bahkan berhitung sebagai bagian kemampuan dasar pada anak didik kelas awal.

Selain sekolah masyarakat Sumenep lebih banyak mempercayakan pendidikan melalui Madrasah. Akan tetapi mayoritas kelembagaan pendidiikan dikelolakan non negeri (swasta) dan terbanyak adalah dikelola oleh warga Nahdlatul Ulama (NU).

LP Maarif NU Kabupaten Sumenep sebagai lembaga yang memayungi kelembagaan pendidikan warga NU menyadari perlunya peran dalam ikut mendesain peningkatan pendidikan, khususnya warga NU.

Kunci peningkatan pendidikan di Sumenep menurut LP Maarif NU adalah membagkitkan potensi literasi kelas awal sebagai kemampuan membaca, menulis dan berhitung.
Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori.

Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi dimana anak didik lebih mudah menggunakan media belajar berbasis teknologi informasi yang basis awal.

Kebutuhan peningkatan pendidikan akan di mulai dari kemampuan literasi di madrasah-madrasah dengan membentuk Fasilitator Daerah (Fasda) yang direkrut dari guru dari madrasah binaan LP Maarif NU. Pelatihan, pengorganisasian dan pendampingan kegiatan literasi akan sangat membantu merubah pola kebutuhan guru dan kebutuhan madrasah terutama masyarakat.

Pemberdayaan melalui literasi ini dilakukan dengan menyasar anak didik dan guru kelas awal. Dimana guru akan diawali dengan dibentuk Kelompok Kerja Guru (KKG) dan di dampingi oleh Kelompok Kerja Madrasah (KKM).

Model pemberdayaan ini dilakukan dengan menggunakan instrumen program peningkatan keprofesian berkelanjutan (PPKB) guru yang didukung oleh Peraturan Menteri Agama Nomor 38 tahun 2018.

Upaya ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan sumberdaya masyarakat kabupaten Sumenep dalam merealisasikan pembangunan dan tingkat pendidikan yang lebih layak.

571 Pembaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *