Doa untuk Sang Guru; Bekal Terbentuknya Etika Peserta Didik

Oleh: Putri Septiani Eka Irwanti

Pendahuluan

Dalam proses belajar mengajar, tidak terlepas dengan adanya interaksi antara guru dan peserta didik. Guru dan peserta didik merupakan suatu komponen yang berperan dalam berlangsungnya sebuah pendidikan. Peserta didik akan mendapatkan ilmu pengetahuan melalui kegiatan pembelajaran dengan situasi tertentu dalam mencapai sebuah tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang tercantum dalam Sistem Pendidikan Nasional UU RI No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal III yaitu: “untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pendidikan dalam perspektif islam merupakan tempat yang menjadi kebutuhan seseorang dalam menuntut ilmu yang mencetak generasi bangsa yang memiliki nilai positif bagi perkembangan peserta didik, terutama dalam beretika yang baik sesuai dengan ajaran islam. Dalam ajaran agama islam, peserta didik dituntut untuk beretika yang baik dalam menuntut ilmu. Peserta didik yang menginginkan keberhasilan dalam menuntut ilmu maka mereka harus menanamkan etika ang baik dalam dirinya terhadap siapapun, terutama kepada guru (Musrifah:2016).

Namun, akhir-akhir ini banyak beredar kasus di dunia pendidikan terkait rendahnya etika peserta didik terhadap guru. Contoh kasus yang dilansir dari Kompas.com 2023 belasan peserta didik di Maluku Tengah mem-bully gurunya yang hendak mengendarai sepeda motornya, dengan alasan terdapat beberapa kebijakan sekolah yang dirasa tidak diterimanya. Selain itu, terdapat kasus lain tentang rendahnya etika peserta didik terhadap gurunya yaitu kasus yang dilansir dari Sindonews (2019) yang berjudul Murid SD di Surabaya Melawan Guru karena Ditegur Merokok,” kasus yang terjadi di salah satu SD di Surabaya yang menentang guru dengan nada tinggi, kasar, bahkan mengeluarkan kata-kata yang kotor, peserta didik tersebut tidak menerima dinasehati oleh gurunya karena ketahuan merokok. Dari fenomena tersebut, telah mencerminkan etika baik peserta didik menurun. Kurang adanya rasa hormat atau ta’dzim kepada gurunya. Padahal, dengan kita berbakti, menghormati, dan patuh kepada guru akan mengantarkan kepada kesejahteraan di dunia maupun diakhirat. Oleh karena itu, sebagai penanggulangan dari peristiwa tersebut perlu adanya pembentukan etika yang baik bagi peserta didik.

 

Etika Peserta Didik

Secara etimologis, etika disebut ethos yang berarti kebiasaan, watak, perasaan, sikap dan cara berpikir. Sedangkan menurut istilah, etika adalah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dinilai baik dan mana yang dinilai buruk. Istilah lain dari etika yaitu moral, susila, budi pekerti, dan akhlak. Dalam islam, etika disebut dengan akhlak. Akhlak dapat diartikan dengan budi pekerti ataupun sopan santun (Novan Ardy Wiyani:2015).

Menurut UU Sisdiknas 2003 Pasal 1 dijelaskan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Dalam proses belajar mengajar, peserta didik harus memperhatikan kode etik. Kode etik peserta didik menurut al Ghazali yaitu belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT; tunduk pada nasihat guru; bersikap tawadhu’ (rendah hati); mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi; menjaga pikiran dari pertentangan yang timbul dari berbagai aliran; mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji; belajar dengan bertahap atau berjenjang; belajar ilmu sampai tuntas kemudian beralih pada ilmu yang lain; mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari; memprioritaskan ilmu diniyah sebelum ilmu duniawi; mengenal nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan yaitu ilmu dapat bermanfaat.

Dari penjelasan di atas, penulis tertarik dan ingin menggali lebih dalam terkait dengan kode etik peserta didik yaitu tunduk pada nasihat guru dan bersikap tawadhu’ (rendah hati). Menurut penulis hal ini sangatlah penting dalam menuntut ilmu dan meraih keberkahan ilmu tersbeut, serta memperbaiki etika yang baik terhadap guru. Tentunya, hal ini membutuhkan suatu pembiasaan yang berkelanjutan agar hal baik tersebut dapat melekat pada diri peserta didik.

 

Pentingnya Mendoakan Guru

Dalam menuntut ilmu seorang peserta didik membutuhkan guru. Guru dapat diartikan sebagai orang yang harus digugu dan ditiru, dalam arti orang yang memiliki kharisma atau wibawa yang perlu ditiru dan diteladani. Dalam ajaran islam, seseorang memiliki tiga orang tua yang harus dimuliakan, yaitu orang tua yang melahirkan, orang tua yang mengajarkan (guru), dan orang tua yang menikahkan (mertua). Dapat disimpulkan bahwa dalam islam posisi guru sama seperti posisi orang tua. Jika orang tua merawat fisik seorang anak, maka gurulah yang merawat ruh dan jiwanya. Mendoakan guru sama pentingnya dengan berdoa untuk orang tua sendiri. Mendoakan guru merupakan bagian dari adab menuntut ilmu. 

Dalam hadist yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar RA.. Rasulullah SAW. Bersabda yang artinya “dan barangsiapa berbuat baik kepada kalian maka balaslah kebaikannya. Jika kamu tidak mampu (membalasnya) maka berdoalah kebaikan untuknya hingga ia mengetahui bahwa kalian telah membalasnya.” (HR. al-Bukhari dalam Al-adabul Mufrad no.216)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa jika kita tidak dapat membalas kebaikan seseorang maka doakanlah orang tersebut. Cara yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan rasa cinta ataupun membalas jasa-jasa guru kita adalah dengan mendoakannya. Hal ini juga dapat memupuk rasa hormat atau tawadhu’ kepada guru untuk mendapatkan keberkahan ilmu ataupun hal yang baik bagi diri sendiri.

 

Penerapan Mendoakan Guru dalam Proses Pembelajaran

Dalam proses belajar mengajar, tidak terlepas dengan adanya interaksi antara guru dan peserta didik. Guru dan peserta didik merupakan suatu komponen yang berperan dalam berlangsungnya sebuah pendidikan. Peserta didik akan mendapatkan ilmu pengetahuan melalui kegiatan pembelajaran dengan situasi tertentu dalam mencapai sebuah tujuan pendidikan. Guru adalah orang tua kita di sekolah. Di mana kita juga harus menghormatinya. Namun, pada realitanya masih banyak peserta didik yang kurang memahami etika yang baik kepada guru. Sehingga masih terdapat peserta didik yang kurang beretika kepada gurunya. Hal ini dikarenakan kurang tersambungnya hubungan antara siswa dengan guru secara rohaniyah. 

Mengenai hal tersebut, sebagai seorang pendidik, guru memiliki tanggung jawab untuk menanamkan akhlakul karimah yang baik kepada peserta didiknya, agar mereka dapat beretika yang baik kepada gurunya. Salah satunya dapat dilakukan dengan mendoakan guru sebelum belajar. Hal ini sudah diterapkan di lembaga pendidikan penulis, di mana sebelum memulai proses pembelajaran guru mempersilahkan salah satu siswa maju ke depan kelas untuk memimpin doa. Ketika siswa tersebut mengucapkan “du’aan lil ustadzi” (doa untuk guru) maka seluruh pesera didik yang pun menundukkan kepala sembari membaca surah al-fatihah. Dengan pembiasaan seperti ini diharapkan peserta didik mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari gurunya serta menumbuhkan rasa mahabbah kepadanya agar dengan rasa mahabbah tersebut membuat diri peserta didik untuk tidak berani menyakiti bahkan beretika yang kurang baik kepada gurunya.

 

Penutup

Etika atau akhlak peserta didik akhir-akhir ini sangat prihatin. Di mana masih terdapat beberapa peserta didik yang berani beretika kurang baik terhadap gurunya. Hal ini sudah melanggar kode etik peserta didik terutama terkait dengan tidak tunduknya peserta didik pada nasihat guru dan tidak bersikap tawadhu’ (rendah hati). Dalam islam posisi guru sama seperti posisi orang tua. Jika orang tua merawat fisik seorang anak, maka gurulah yang merawat ruh dan jiwanya. Terkait hal itu, dalam membentuk akhlak yang baik bagi peserta didik salah satunya dapat membiasakan mereka untuk mendoakan guru-gurunya. Hal ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar RA. Bahwa Rasulullah SAW. Bersabda yang intinya adalah jika kita tidak bisa membalas kebaikan seseorang, maka doakanlah. Oleh karena itu, doakanlah gurumu agar mendapatkan keberkahan dan kesejahteraan hidup. Selain itu, dengan kita mendoakan guru akan menumbuhkan rasa mahabbah kepadanya agar dengan rasa mahabbah tersebut membuat diri peserta didik untuk tidak berani menyakiti bahkan beretika yang kurang baik kepada gurunya.

 

Daftar Pustaka

Amelia Nefi. 2021. Konsep Etika Peserta Didik Terhadap Guru dalam Perspektif KH. Hasyim Asy’ari dam Relevansinya dengan Pendidikan Karakter. Skripsi. IAIN Bengkulu.

Basiroh Nurul. 2020. Etika Siswa Terhadap Guru dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim  Karya KH. M. Hasyim Asy’ari. Diploma Thesis. UIN Sunan Gunung Djati:Bandung.

Novan Ardy Wiyani, Etika Profesi Keguruan, (Yogyakarta: Gava Media, 2015).

Sari, Leni Elpita. Adab Kepada Guru dan Orang Tua: Studi Pemahaman Siswa pada Materi Akhlak. Junal Kependidikan dan Sosial Keagamaan: Volume 6, Nomor 1 (2020).

125 Pembaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *