MEREFLEKSIKAN KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN

Oleh: *Marjuki*

MEREFLEKSIKAN KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN Universitas Qomaruddin Fasilitator Sekolah Penggerak,Gresik, 26 September 2023

Miris rasanya jika mendengar dan melihat masih banyak kekerasan dalam pendidikan. Padahal semua pihak berharap lembaga pendidikan merupakan gerbong terakhir untuk menumbuhkan karakter murid. Karakter yang diharapkan tidak lain adalah karakter yang baik. Karakter yang baik adalah karakter positif, yaitu yang dapat diterima oleh masyarakat.

Jika kita menengok terjadinya kekerasan pendidikan sungguh ngeri. Ngeri karena kejadian itu justru di lembaga pendidikan. Jika dipikir kurang apa, segala upaya sekolah agar murid dapat belajar dengan nyaman. Murid dapat berkembang sesuai bakat alam dan bakat zaman. Dengan lingkungan kondusif dapat memfasilitasi murid berkembang secara natural.

Faktanya masih banyak kejadian kekerasan pendidikan. Pada pereode bulan Januari – Pebriuari terjadi 86 kasus kekerasan seksual pada murid (https://shorturl.at/opMS9). Hal ini sungguh miris, belum lagi kekerasan lainnya. Pereode bulan Januari – Mei Tahun 2023 juga terjadi 202 murid korban kekerasan seksual di sekolah (https://shorturl.at/ajxL8).

Kasus perundungan (buillying) pada pereode bulan Januari – Juli Tahun 2023 tercatat 16 kasus di sekolah (https://shorturl.at/fpGUY). Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat sebanyak 16 kasus perundungan di sekolah. Empat kasus baru terjadi pada Juli 2023, diantaranya kekerasan terhadap 14 siswa di Kabupaten Cianjur yang terlambat masuk sekolah, kekerasan kakak kelas terhadap adik kelas, perundungan siswa SMAN di Kota Bengkulu oleh empat guru, dan penusukan siswa SMA di Samarinda.

FSGI juga mencatat kasus terakhir yakni penyerangan orang tua terhadap guru di SMAN 7 Rejang Lebong termasuk parah karena mengakibatkan kebutaan pada korban. Penyerangan orang tua tersebut terjadi akibat perlakuan guru terhadap siswa (https://shorturl.at/jqKZ9). Kasus terbaru, paling gres (Senin, 25 September 2023) murid berinisial AR Madrasah Aliyah (MA) di Pilangwetan, Kebonagung, Demak tega membacok gurunya saat membagikan soal ujian tengah semester. Motif tindakan pelaku didasari oleh sikap kurang puas terhadap hasil penilaian tengah semester (PTS).

Faktor-faktor yang berpengaruh pada keberhasilan pendidikan memang banyak hal. Kita masih ingat “Tri Pusat Pendidikan”, yaitu; Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Peran ketiganya sangat penting dalam menjalankan proses pendidikan. Ketiganya saling beririsan fungsi dan peran. Ketiganya saling mendukung dan saling ketergantungan.

Jika kita ingin mempernbaikinya mulai dari mana? Jika saya ditanya, tentu saya jawab dari diri saya sendiri. Sebagaimana pesan Rasulullah Saw “Ibda’ binafsik tsumma man ta’ulu”, yang dimaknai *mulailah dari diri sendiri kemudian kepada orang yang di bawah tanggung jawabmu*. (HR. Ahmad dan Muslim).  Saya sebagai pendidik sangat tidak mungkin banyak menuntut pihak lain. Orang lain tentunya di luar kendali saya. Yang dapat saya lakukan adalah merefleksikan setiap kejadian, setiap akhir pembelajaran menjadi point penting untuk perbaikan pembelajaran, tetapi belum saya lakukan.

Refleksi dalam pendidikan sangatlah penting, bahkan menjadi salah satu ciri pendidikan modern. Pendidik mengajak murid melakukan refleksi di setiap akhir pembelajaran. Kita tahu, bahwa refleksi adalah kemampuan beripikir kritis tentang isi, proses, dan hasil. Murid diajak melihat kembali isi, substansi konten yang dikuasai, melihat kedalamannya dan kompetensi yang sudah dimiliki. Murid juga diminta menilai secara kritis terhadap proses belajar yang dilalui bersama. Mungkin ada kendala, hambatan, bahkan kesulitan. Bisa jadi dalam proses belajar tidak sesuai dengan; gaya belajar, kebutuhan, dan tingkat kesulitan murid.

Pendidik memfasilitasi secara kelompok maupun individu apakah sudah merata, dst.? Murid juga diminta menilai secara kritis tentang hasil yang dicapai. Jika ada murid yang memperoleh hasil belajar tinggi, bisa menjelaskan mengapa dapat tinggi atau maksimal? Jika ada murid memperoleh hasil belajar tidak masimal, dapat diminta menjelahkan mengapa hasilnya tidak sesuai harapan? Refleksi ini menjadi _entry point_ bagi pendidik untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya.

Pertanyaan besarnya, apakah selama ini saya sudah memfasilitasi belajar murid sesuai dengan hasil asesmen awal? Kita tahu peta murid dan profil murid beragam. Murid beragam memiliki tingkat perkembangan berbeda-beda. Pada jenjang SLTA, bisa jadi murid kelas XII, tingkat perkembangannnya masih kelas XI atau kelas X, tetapi selama ini belum saya petakan.

Murid memiliki kebutuhan yang beragam. Kelas saya pasti heterogen, pasti berbeda dalam banyak hal; gaya belajarnya, potensinya, bakatnya, minatnya, hobinya, kesukaannya, dst. Akan tetapi selama ini saya *cuwek bebek*, tidak pernah tahu, dan tidak mau tahu. Murid memiliki tingkat kesulitan berbeda-beda. Di kelas pasti ada murid _lower (slow leaner),_ _middle_ (sedang), dan _upper (fast learner)._ Selama ini saya tidak melakukan apa-apa untuk mereka. Saya mengajar dengan sama rata, sama rasa (gebyah uyah). Lembar kerja (LK) tidak pernah saya bedakan, sekalipun kemampuan imajinasinya tidak sama.

Ternyata saya belum dapat menjadi pendidik yang baik. Saya belum melakukan refleksi, apalagi memanfaatkan hasil refleksi. Saya masih mengajar semau saya. Mengajar seingat saya. Saya lupa membuat persiapan, bahkan saya lupa materinya sampai dimana. Saya juga sering bertanya kepada murid yang duduk paling depan, sampai dimana materinya kemarin? Kemarin soalnya tinggal berapa yang belum dikerjakan, murid menjawab, tinggal dua pak, okey lanjutkan ya sampai bel jam habis.

Saya juga belum sempat mengecek respon murid. Saya tidak tahu apakah murid senang, susah, sedih atau tertekan saat pembelajaran. Sungguh saya tidak sempat dan sering lupa untuk mengadakan perbaikan pembelajaran. Pantas saja para murid kalau ada bel pergantian jam bersorak ria. Apakah ini pertanda para murid tidak bahagia dan tertekan. Apakah mereka tidak puas? Ataukah belum merdeka.

Saya mohon maaaf wahai muridku. Semoga anda masih bersemangat belajar, belajar, dan belajar.

Salam RVL

Salam Sehat

Salam Telelet

Salam Literasi

Salam Bahagia

Gresik, 26 September 2023

 

50 Pembaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *