MENGEMBANGKAN KOMPETENSI MASA DEPAN MURID (2)

oleh ; marjuki

MENGEMBANGKAN KOMPETENSI MASA DEPAN MURID Universitas Qomaruddin Fasilitator Sekolah Penggerak /Gresik, 29 September 2023

Pada artikel sebelumnya sudah dibahas tiga kompetensi masa depan murid, yaitu; (1) berkarakter, (2) bernalar kritis, dan (3) kreatif. Kali kita akan mengoprek-oprek tiga kompetensi lainnya, yaitu; (4) kolaboratif, (5) komunikatif, dan (6) terampil memecahkan masalah.

*Keempat, Kolaboratif, Kolaborasi* _*(Collaboration)*_ Kolaborasi merupakan kemampuan murid untuk bekerja sama, saling bersinergi, beradaptasi dalam berbagai peran dan bertanggung jawab. Berkolaborasi berarti bekerja sama secara produktif dengan berbagai pihak, menempatkan empati pada posisi dan porsinya, serta menghormati prespektif yang berbeda.

Secara sederhana dalam Profil Pelajar Pancasila (P3) dimanifestasikan pada gotong royong. Semangat gotong royong menjadi sangat indah manakala terdapati saling menghargai perbedaan, saling mengakomodasi keberagaman. Saling mendukung, saling mengakomodasi, saling melengkapi, dan menjunjung tinggi kebersamaan dalam kebaikan. Oleh karenanya murid-murid perlu kita tanamkan berkolaboratif dalam setiap hal kebaikan.  Pertanyaannya, kegiatan pembelajaran seperti apa yang dapat memfasilitasi pembentukan kompetensi kolaboratif?

*Kelima, Komunikasi* _*(Communication)*_ Komunikasi merupakan _soft skill_ murid yang harus dikembangkan. Komunikasi termasuk keterampilan mentransfer sejumlah informasi, baik lisan maupun tulisan. Komunikasi juga menjadi penanda kualitas peradaban manusia.  Sekarang era globalisasi, yaitu era kompetisi. Siapa yang cepet dialah yang dapat. Era global juga dikenal era informasi, kecepatan informasi yang didukung oleh kecanggihan digital atau juga dikenal dengan era digital. Dengan digital yang canggih memicu globalisasi. Era sekarang juga dikenal dengan disrupsi _(disruption)_ yang tercerabut dari akarnya.

Barusan kita mengalami pandemi Covid-19, hal ini juga mempercepat era digitalisasi. Era ini memicu kecepatan informasi melalui digital. Era ini melaju lebih cepat dari perkiran para pakar. Pandemi Covid-19 betul-betul membuat dunia kaget, tercengang _(speechless),_ kelabakan terutama di dunia Pendidikan. Di negara mana pun masih mempersiapkan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Namun tiada terduga pandemic Covid-19 memaksa segera memanfaatkan Teknologi informasi.

Kondisi semacam ini sungguh tidak terduga sebelumnya. Akan tetapi semua lini dan elemen masyarakat harus bergerak dari tatap muka menjadi tatap maya. Semua lini negara mana pun harus siap. Siap tidak siap. Suka tidak suka. Semua harus berjibaku untuk menjaga jarak, cuci tangan, memakai handsanitizer, dan menggunakan APD (alat pelindung diri) baik saat tatap muka, bahkan saat tatap maya pun masih menggunakan APD. Sekalipun PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sudah dicabut ternyata masih menerapakannya dengan ketat. Jika tidak menggunakan masker, tidak dilayani. Ada kebiasaan baru.

Pembelajaran daring dianggap solusi. Bagaimana tidak. Pembelajaran tatap maya dapat menghindari sentuhan fisik, dan interaksi langsung. Akan tetapi ada yang hilang, yaitu keteladanan guru, kerja sama, saling menyemangati, saling menghargai, ikatan batin, dan tali silaturahmi. Pembelajaran yang menyampaikan materi mungkin aman, bahkan dapat memperbanyak tugas dengan perintah pengumpulan tugas yang jelas. Jika mengumpulkannya di atas pukul 23.59 Wib tidak akan diniliai. Pada artikel sebelumnya dikatakan pembelajaran yang demikiam “pembelajaran dengan ancaman”. Terjadi kriminalisasi dalam pembelajaran.

Komunikasi menjadi mutlak perlu dilatihkan kepada murid. Salah satu penanda orang kompeten dapat dilihat dari cara berkomunikasi. Ada tiga penanda orang kompeten, yaitu dilihat dari; (1) cara bicaranya, (2) cara bersikap, dan (3) cara membuat keputusan. Cara bicara, cara berkomunikasi menjadi kunci kesuksesan, baik lisan maupun tulisan. Para CEO _(Chief Executive Officer_ cara berkomunikasi berbobot, meyakinkan, dan berpengaruh luas sehingga dapat memimpin dan mempengaruhi ribuan, bahkan jutaan orang. Para murid pun harus memiliki kompetensi komunikasi yang handal, yang efektif untuk bekal masa depan. Pertanyaanya, kegiatan pembelajaran seperti apa yang dapat memfasilitasi murid menjadi handal, mahir, dan expert berkomunikasi?

*Keenam, Terampil memecahkan masalah*. Kompetensi ini sangat vital. Dikatakan vital karena menjadi penentu, pembeda, dan puncak kemahiran. Hidup ini tidak lepas dari masalah. Manusia hidup harus berani menghadapi masalah. Jika tidak berani menghadapi masalah lebih baik jangan hidup, mati saja. Hal ini sering kita dengar, bahkan selalu terngiang di otak kita. Masalah kehidupan bukan masalah biasa, bukan masalah remeh-temeh, melainkan masalah non rutin. Masalah non rutin merupakan masalah kompleks. Masalah yang memerlukan kemampuan, keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dikenal HOTS _(Higher orde_r thinking skills)._

Orang cerdas bukan orang yang pandai matematika, kimia, fisika. Akan tetapi mereka yang pandai menyelesaikan masalah dalam waktu yang singkat. Kecepatan menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, mengambil tindakan itulah orang cerdas. Sebaliknya orang yang tidak cerdas biasanya lambat menyelesaikan masalah, lambat membuat keputusan, dan lambat bersikap.

Melihat kehidupan makin kompleks, makin rumit, dan ruwet memerlukan orang yang terampil memecahkan masalah. Kompetensi yang diperlukan adalah CPS _(Complex problem solving),_ yaitu keterampilan pemecahan masakah yang kompleks. Hal ini tidak dapat ditawar. Tidak dapat dihindari. Hal ini menjadi kebutuhan mutlak. Satuan Pendidikan dituntut oleh fakta kehidupan, tantangan global, dan kelayakan kehidupan di masa mendatang. Satuan Pendidikan tidak bisa menghindar. Tidak bisa menutup mata, telinga, dan hati. Semua menjadi masalah kita bersama. Menjadi tanggung jawab kita semua. Upaya yang bisa dilakukan melalui pembelajaran. Pertanyaannya, kegiatan pembelajaran seperti apa yang dapat memfasilitasi murid memiliki keterampilan memecahkan maslah kompleks?

Dengan enam kompetensi masa depan, yaitu; *(1) berkarakter, (2) bernalar kritis, (3) kreatif, (4) kolaboratif, (5) komunikatif, dan (6) terampil memecahkan masalah* diharapkan murid-murid kita dapat menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat. Murid kita menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat diharapkan dapat hidup layak di masa datang. Semoga sukses selalu. Aaamiiiiiin

Salam RVL

Salam Sehat

Salam Telelet

Salam Literasi

Salam Bahagia

Gresik, 29 September 2023.

 

55 Pembaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *