MEMANDANG KURIKULUM SEBAGAI KONTEN

Oleh : Marzuki

Universitas  Qomaruddin  Fasilitator  Sekolah  Penggerak /Gresik, 15 September 2023

Cara pandang seseorang menjadi navigasi perjalanan panjang. Dikatakan perjalanan panjang karena mempengaruhi perilaku seseorang selamanya sesuai dengan cara pandangnya. Cara pandang dalam dunia pendidikan tentunya dampaknya meluas. Meluas kepada guru-guru lain, para murid-muridnya, bahkan bisa menurun ke generasi berikutnya.

Cara pandang yang baik tentunya akan berdampak baik kepada siapa saja, walaupun tidak demikian praktinya. Sesuatu yang baik bisa jadi disikapi kurang baik, bahkan tidak baik. Hal ini sangat mungkin terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi cara pandang kita yang tidak baik dapat dipastikan dampaknya makin tidak baik dan menyebar kemana-mana. Apalagi zaman, era informasi, era digital ini. Semua hal baik maupun kurang baik cepat menjadi viral.

Selama ini kita memandang kurikulum sebagai konten. Padahal kurikulum mana pun dapat dipastikan komponennya ada dua, yaitu kompetensi dan konten. Sampai sekarang pun tidak sedikit yang memandang kurikulum sebagai konten (materi). Mereka memandang kurikulum sebagai konten, maka yang terjadi setiap berkumpul di kantor yang dibicarakan adalah konten. Mereka sering sambat “materinya masih banyak, materinya belum habis, gara-gara pandemi Covid-19, gara-gara PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas), dst. Kondisi semacam ini selalau diamini rekan-rekannya seprofesi.

Di pihak lain ada juga pendidik yang bangga karena telah mampu menuntaskan tugasnya. Mereka dengan riang gembira telah mampu menghabiskan materinya sebelum waktu yang ditentukan. Tidak sedikit dari mereka bergumam, berucap, “alhamdulillah materi saya sudah habis-bis, sudah tuntas tas.” Sedikit pun mereka tidak merasa bersalah. Mereka begitu polos, lugas menyatakan kegembiaraannya. Kondisi seperti ini sengaja ditunjukkan ke rekan kerjanya dengan harapan dapat mencontoh dirinya yang telah sukses. Walaupun di antara mereka tidak ada yang bertanya strategi apa yang digunakan. Mereka sudah memikiki jawaban masing-masing, tahu sama tahu (TST).

Sebenarnya kondisi seperti ini sangat parah. Bahkan sangat-sangat parah. Perubahan kurikulum bertubi-tubi tidak lain adalah untuk mengubah mindset. Akan tetapi mengubah mindset tidaklah mudah, melainkan sulit bahkan sulait (sangat sulit). Jika kondisi ini dibiarkan secara terstruktur, masif, dan berkelanjutan, maka perubahan kurikulum selama ini akan menjadi pembenar jargon, “*ganti menteri ganti kurikulum*.”

Sebaik apa pun kurikulum kita jika mindset eksekutor pendidikan tidak berubah. Dapat dibayangkan jika para pengambil kebijakan dari pusat sampai di tingkat satuan pendidikan masih berpikir kurikulum sebagai konten. Akibatnya para pengambil kebijakan selalu berpikir bagaimana para pendidik dapat menghabiskan materi. Yang mereka sampaikan dalam forum resmi maupun tidak resmi bagaimana para pendidik dapat menghabiskan  materi. Bicara kukrikulum selalu bicara materi, materi, dan materi.

Kondisi menghabiskan materi ini akan disambut dengan baik oleh para eksekutor pendidikan di lapangan dengan gegap gempita. Mereka merasa sejalan. Mereka sepakat. Apu pun strateginya agar materi segera habis tersampaikan. Tidak jarang di kantor sering terucap syukur yang mendalam, dan sangat-sangat ikhlas kalau materinya sudah habis. Semua materinya yang menjadi beban sudah tersampaikan dengan baik kepada peserta didiknya. Mereka merasa plong, bisa tidur nyenyak, terlepas dari beban berat selama ini. Tidak perlu bertanya tentang strategi apa yang digunakan sehingga dapat menghabiskan materi. Padahal ini sebenarnya telah terjadi *malapraktik pendidikan yang pertama* dalam pembelajaran.

Semoga menginspirasi, terus berinovasi mencari solusi untuk membangun negeri tercinta ini. {oleh ; marzuki}

87 Pembaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *