HUKUMAN MURID YANG TIDAK RELEVAN

Oleh: Marjuki

HUKUMAN MURID YANG TIDAK RELEVAN Universitas Qomaruddin Fasilitator Sekolah Penggerak, Gresik, 23 September 2023.

Memang tidak mudah mengubah perilaku murid. Apalagi perilaku seseorang terbentuk dari proses yang lama dan panjang. Terbentuknya perilaku tidak terlepas dari situasi kehidupan mereka berada. Dimana mereka beraktivitas, dibesarkan, dan berinteraksi mejadi kontribusi yang besar dalam pembentukan perilakunya.

Jika para murid berada di lingukungan keras, kasar baik fisik maupun verbal akan terlihat bagaimana mereka bersikap dan bertutur kata. Demikian juga yang hidup di daerah yang penuh keramahan akan tampak pada perilakunya. Kita dapat melihat dengan kasat mata bagaimana cara menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Cara mereka bersikap dan bertutur dapat mengindikasikan kehidupan di rumah dan di sekitarnya.

Hal itu yang meminta kita sebagai pendidik perlu memastikan kehidupan mereka yang sebenarnya. Kita tidak bisa tergesah-gesah menyimpulkannya. Bisa jadi murid di rumah baik-baik saja dan orang tuanya juga sangat baik. Jika pengaruh perilaku murid dari keluarganya, ternyata keluarganya baik-baik saja, maka bisa dicek pada masyarakat sekitarnya. Jika masyarakat sekitarnya juga baik-baik saja, biasa-biasa saja, maka dapat dicek siapa saja teman dekatnya, teman yang selalu membersamai mereka.

Strategi mengecek teman bermainnya menjadi penting. Kebiasaaan setiap hari tongkrongan, cangkrukan, begadang dapat dipastikan sudah memiliki solmate. Solmate ini biasanya memiliki pengaruh yang kuat dalam pembentukan karakter. Walaupun menurut Prof. Haiti (2005) keberhasilan belajar murid, antara lain karena faktor; motivasi diri 49%, fasilitasi guru 30%, teman 7%, sekolah 7%, dan keluarga 7%. Pengaruh teman hanya berpengaruh 7% dalam keberhasilan belajar, akan tetapi dalam perilaku, karakter hidupnya sangatlah besar. Sebagai bukti seringkali anak diminta orang tuanya membeli sesuatu, pada saat yang sama diajak temannya pergi ke suatu tempat.  Anak tersebut sudah ditunggu, dapat dipastikan akan memilih, mematuhi ajakan teman-temannya daripada melaksanakan permintaan atau perintah orang tuanya.

Sekalipun mengubah perilaku tidaklah mudah dan sangat tidak mudah. Akan tetapi lembaga pendidikan menjadi taruhan. Lembaga pendidikan menjadi tumpuan. Padahal ada kaidah jika ingin mengubah budaya, perilaku perlu “tiga generasi”. Bagaimana pun perubahan budaya, karakter hanya dan jika hanya melalui lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan secara struktur, sistemik, komprehensif, holistik, dan berkelanjutan diharapkan dapat menumbuhkan karakter, bahkan mengubah karakter menjadi lebih baik. Harapan ini tidak salah karena lembaga pendidikan memiliki kurikulum, tenaga pendidikan yang handal, dan profesional. Akan tetapi fakta di lapangan perlu perbaikan di sana sini. Sadar atau tidak, perlu banyak refleksi, baik refleksi isi, proses, maupun hasil.

Sekolah menerapkan disiplin ketat. Bisa jadi penerapan disiplin sudah disosialisasikan, sudah disepakati, bahkan semua pihak sudah membuat fakta kesepahaman ditanda tangani bersama dengan  rame-rame. Misalnya; (1) Pintu sekolah ditutup pukul 07.45 Wib. Jika anak terlambat tidak boleh masuk. (2) Terlambat 5 menit harus siap mendapatkan hukuman dari guru piket, (3) Anak yang tidak mengerjakan tugas harus berdiri. Dan seterusnya.

Pertama, murid tidak boleh masuk sekolah karena sudah telat apa pun alasannya. Katanya hal ini sudah disepakati termasuk murid. Sekolah “kekeh” menerapkan disiplin ketat karena sudah kesepakatan, karena demi wibawa sekolah. Jika diberi kelonggaran, murid akan “ngelamak” dst. Dapat dipastikan murid tersebut hatinya kecewa, masgul karena sudah berusaha tetapi masih terlambat. Murid kecewa berat, tidak tahu mau kemana lagi. Mau pulang malu dengan tetangga. Jam segini kok sudah pulang, pasti ini murid nakal, dipulangkan gurunya karena pelanggaran, dst. Mau pulang juga takut kepada orang tua. Kadang tidak ditanya, langsung dimarahi, bahkan ada yang dipukul.

Kondisi murid masih remaja. Ciri remaja biasanya jiwanya masih labil, mencari jati diri, dan angin-anginan, mudah terpanguruh, mudah terprovokasi. Jika kondisi ini dibiarkan oleh sekolah, bahkan diperparah oleh sekolah, maka dapat menjerumuskan murid. Bagaimana masa depan mereka? Mereka perlu bimbingan, perlu dibersamai untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan siap hidup layakl di masa depan.

Kondisi murid yang labil, gontai, lunglai tidak tahu harus kemana untuk singgah, untuk menghabiskan waktu sampai jam pulang. Tiba-tiba bertemu dengan komintas anak punk. Dapat dibayangkan apa yang terjadi? Murid tersebut ternyata lebih nyaman dalam komunitas anak punk. Mengapa? Ternyata anak punk lebih bisa memahami kesulitannya, menerima apa adanya, termasuk segala kekurangannya. Anak punk lebih bisa menyelami kesulitannya daripada yang di sekolah. Di sekolah lebih menampakkan mencurigai, rasa tidak percaya, bahkan lebih banyak menuduh. Anak menjadi tersangka. Anak dianggap problem. Tidak heran jika anak punk yang umumnya bebas, mandiri, tanpa banyak aturan tetapi nyaman walaupun dengan hidup menggelandang.

Murid sangat mendongkol. Murid tidak diberi kesempatan menjelaskan keterlambatannya. Padahal murid sudah berangkat jauh lebih pagi dengan harapan bisa datang lebih awal. Dengan qodrat Allah Swt ban spedanya bocor di tengah sawah, maka harus menuntun sepeda sangat jauh dan tidak ada  tukang tambal ban. Terkadang murid yang terlambat lebih berakhlak. Bagaimana tidak? Murid terlambat karena berusaha membantu ibunya sakit untuk membeli obat dan meminumkannya. Murid terlambat lebih berkarakter karena saat di perjalanan, persis di depan matanya ada kecelakan yang perlu pertolongan. Apakah karakter ini tidak menjadi pertimbangan?

Kedua anak terlambat 30 menit dihukum dengan membaca Al Quran. Walaupun hukuman itu sudah disepakati. Apakah tidak bahayakah? Sebaiknya anak yang terlambat 30 menit, saat pulang hendaknya bertemu gurunya, berdisikusi tentang pembelajaran yang tidak diikuti selama 30 menit. Hal ini lebih relevan dan sangat mendidik. Membaca Al Qur’an itu baik dan menjadi kewajiban bagi muslim, akan tetapi jangan sampai Al Qur’an sebagai hukuman. Murid dalam keadaan tertekan dipaksa membaca Al Qur’an. Apa yang ada dalam benak murid, yang tertanam, terpatri, bahwa “Al Qur’an sebagai hukuman”. Padahal Al Qur’an sebagai kitab suci, multi fungsi, dan dimuliakan. Jangan sampai terkesan mereduksi fungsi Al Qur’anul karim.

Ketiga anak yang tidak mengerjakan tugas harus berdiri. Belajar sambil berdiri. Bisa jadi sudah kesepakatan antara pendidik dengan murid, akan tetapi sejatinya sungguh tidak mendidik. Betapa malunya anak brdiri di depan kelas dan menjadi tontonan teman-temannya. Bisa jadi pendidik merasa puas karena bisa membuat anak jerah, tidak berdaya, tidak berkutik jika tidak mengindahkan perintahnya. Hal ini benar karena sang pendidik berkarakter sniper (penembak jitu). Merasa puas jika melihat muridnya “klepeg-klepeg” (bahasaa Jawa). Bergumam dalam hati kecilnya “saya kok dilawan”. Murid ditertawakan teman-temannya. Murid merasa dibuli. Ternyata yang membuli pertama kali adalah sang pendidik sendiri.

Sebaiknya hukuman yang pertama, kedua, dan ketiga dapat dihindari. Hukuman dianggap solusi untuk mendisiplinkan murid. Disiplin semu yang didapatkan. Murid tidak menjadi lebih baik akan tetapi sudah menyimpan pemikiran menghukum, pemikiran balas dendam, pemikiran kekerasan, raja tega dan seterusnya. Mereka menganggap yang begitu itu yang benar karena itu yang dialami, yang dirasakan di sekolah, yang dipertotonkan setiap hari oleh sang pendidik.

Jika murid mengalami kesulitan kita sebagai pendidik juga ikut merasakan kesulitannya. Kita masuk ke area murid, masuk ke zona psikologis murid (zona of proximal development). Dengan demikian murid merasa memiliki teman di sekolah. Pendidik dianggap orangnya di sekolah. Murid merasa dapat asupan perhatian dari sang pendidik. Mjurid merasa memiliki teman curhat, teman tempat mencurahkan semua keinginan masa depan dan kesulitannya.

Semoga kita sebagai pendidik dapat berperan sebagai orang tuanya di sekolah yang penuh kasih sayang. Sebagai teman ngobrol, teman ngopi, teman yang saling menyemangati. Semoga berhasil dan sukses selalu. Aamiiiin.

Salam RVL

Salam Sehat

Salam Telelet

Salam Literasi

Salam Bahagia

 

Gresik, 23 September 2023.

111 Pembaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *