MENGAJAR DENGAN ANCAMAN

Oleh ; *Marjuki*

Universitas Qomaruddin Fasilitator Sekolah Penggerak/Gresik, 17 September 2023

Seringkali kita melihat pendidikan dilaksmuridan dengan disiplin. Sikap disiplin ini dianggap faktor utama penentu keberhasilan murid.  Apa pun yang diterapkan dengan atas nama disiplin. Sayang sekali disiplin yang digunakan adalah disiplin keras, disiplin ketat. Disiplin keras diterapkan dengan  kekerasan. Ekses disiplin keras berujung pada masalah hokum, bahkan masuk penjara.

Jika ditanya mengapa masih menerapkan disiplin keras? Jawabannya beragam dengan sejuta alasan. Alasan yang sering digunakan adalah mengacu pendidikan zaman dulu. Zaman dulu dengan disiplin keras, murid-murid menjadi penurut. Murid menjadi takut dengan pengajar, dan pendidik. Bandingkan dengan murid zaman sekarang. Murid sekarang tidak takut dengan yang mengajar. Dalam Bahasa Jawa, murid sekarang banyak yang “ngelamak.”

Zamannya sudah berubah, sudah barang tentu kita mengikuti perubahan. Mengikuti perubahan bukan berarti sekedar mengikuti arus, akan tetapi bisa terlibat dalam mengendalikan perubahan, menyikapi perubahan. Kehadiran pengajar, pendidik tetap penting. Perannya menjadi penentu dalam memfasilitasi murid siap hidup di masa datang. Keteladanan bersikap, berpikir, bertindak akan menjadi _entry point_ penting dalam pembentukan karakter murid.

Keteladanan pengajar, pendidik menjadi desain karakter murid, maka apa yang diteladankan menjadi anutan, acuan murid bersikap dalam bermasyarakat. Sayangnya, seringkali kita tidak sadar apa yang kita teladankan kepada murid dapat menjadi cacat psikologis. Tidak sedikit murid dalam pembelajaran tersakiti karena dibuili.  Anehnya yang membuili bukan sesama murid, melainkan pengajarnya.  Mungkin awalnya menggojlok salah satu murid kemudian diikuti temannya sekelas dengan teratawa lepas. Sang pengajar merasa senang karena mampu membuat suasana keas menjadi segar dan dinamis. Murid yang ditertawakan jiwanya terlkuka, tersakiti. Murid akan mengingat sesuatu yang ekstrim, yang luar biasa. Bukan tidak mungkin kejadian itu diingat sampai akhir hayat.

Sesuatu yang tidak biasa, extra ordinary yang selalu diingat, yang melekat di pemikiran murid. Jika kita pernah memukul murid dengan alasan disiplin, maka murid akan mengingat selamanya. Murid masih merekam dengan baik karena saat dipukul pelipisnya berdarah dengan tiga jahitan. Kondisi seperti ini kadang masih sering terjadi di negeri tercinta ini.

Pada masa pandemi yang lalu juga banyak terjadi pembelajaran dengan ancaman. Pengajar memberikan pembelajaran daring, akan tetapi karena keterbatasan fasilitas akhirnya memperbanyak penugasan. Tugas diberikan melalui pesan singkat tertulis, *Tolong kerjakan hari ini dengan cepat dan dikumpulkan paling akhir pukul 23.59. Jika mengumpulkan lebih dari pukul 23.59, tidak akan saya nilai* Hal ini juga merupakan contoh pemberian tugas dengan *ancaman* Murid belum mengerjakan sudah takut. Takut ancamannya. Yang dipikirkan murid bukan bagaimana dapat mencapai hasil belajar maksimal, akan tetapi bagaimana dapat terhindar dari ancaman tersebut. Murid dalam keseharian merasa terancam. Hidup dalam ancaman. Bisa jadi juga bergumam, “ternyata pengajar saya saya adalah suka mengancam *(sniper)*

Ada murid terlambat tanpa banyak ditanya alasannya mengapa terlambat langsung pintu gerbang dikunci. Murid dengan sendirinya pulang dengan hati masygul, lunglai, berjalan gontai, mau kemana lagi, mau pulang takut orang tua, dan malu sama tentangga. Coba jika tidak langsung pulang terus mampir ke tempat yang lebih bersahabat. Bisa jadi bertemu dengan orang yang asyik main gaple. Murid ikutan main gaple dengan berseragam sekolah. Bisa jadi bertemu dengan murid punk akhirnya ikut ngepunk sampai tiga bulan tidak berangkat sekolah. Murid lebih nyaman dengan anak punk, karena anak punk bisa menerima apa adanya, tidak banyak menuntut. Anak punk lebih bisa menghargai, sementara di lembaga pendidikan sering mencurigai, tidak mempercayai, bahkan tidak mau tahu kesulitan muridnya.

Murid terlambat di sekolah mana pun selalu terjadi. Apa pun yang terjadi pada murid ajak diskusi, ajak menceritakan apa yang terjadi, apa yang membuat terlambat? Bisa jadi murid terlambat itu lebih baik daripada datang lebih awal akan tetapi meninggalkan orang tuanya yang sakit, tidak membantu orang tuanya minum obat. Bisa jadi murid terlambat itu lebih mulia daripada datang tepat waktu tetapi tidak menolong orang kecelakaan di depan matanya.

Seringkali memberikan hukuman yang tidak relevan dengan masalahnya. Murid terlambat datang dihukum dengan mengambil sampah se halaman sekolah. Jika ditanya, mengapa kok mengambil sampah? Banyak alasan yang dibuat-buat. Agar murid kapok terlambat, agar murid malu jika terlambat, agar halaman sekolah bersih. Sebaiknya kita harus tahu alasannya, kita meminta murid menceritakan kembali apa yang menjadi penyebab terlambat. Murid diajak mencari solusi yang terbaik agar berikutnya tidak terlambat lagi. Murid diajak berpikir jika ada masalah harus bisa mencari solusinya. Murid diajak mengidentifikasi cara-cara yang paling memungkinkan untuk tidak terlambat.  Mereka sendiri yang akan memperbaiki dirinya untuk menjadi lebih baik.

Dengan demikian kita selalu melayani murid dengan hati. Dengan hati yang ikhlas penuh kehangatan, penuh cinta kasih. Insya Allah hasilnya akan lebih baik daripada menjajar, melayani, memfasilitasi dengan ancaman. Semoga sukses selalu.

Salam RVL

Salam Sehat

Salam Telelet

Salam Literasi

Salam Bahagia

75 Pembaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *