iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas
iklan atas

Pembekalan Fasda, Sugio: Pentingnya Non Pemerintah untuk Pendidikan Indonesia

36 Pembaca
Sambutan Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur , Dr. Sugiyo, M.Pd dalam acara Pembekalan Fasilitator Daerah (Fasda) Literasi
Sambutan Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur , Dr. Sugiyo, M.Pd dalam acara Pembekalan Fasilitator Daerah (Fasda) Literasi

Surabaya (maarifnujatim.or.id) – Runtutan timeline kegiatan program kemitraan INOVASI dengan LP Maarif NU Jatim memasuki fase Pembekalan Fasilitator Daerah (Fasda) yang digelar di hall kantor Maarif Jatim dan diagendakan berlangsung selama tiga hari 28-30 Juni 2021.

Hadir dalam acara tersebut, KH. Abdul Mujib Hasim bendahara Maarif Jatim, Sunan Fanani selaku manajer program sekaligus sekretaris Maarif Jatim, Juprianto perwakilan dari INOVASI Jawa Timur, serta Dr. Sugio, M.Pd. Kasi Kurikulum yang mewakili Kakanwil Kemenag Jatim yang pada saat itu berhalangan hadir.

Dalam sambutannya, Sunan Fanani selaku manajer program menyampaikan, sasaran program Literasi adalah menfokuskan pada pendampingan guru. Nantinya dari pendampingan guru tersebut akan ada media pembelajaran yang akan digunakan oleh guru di dalam mengajari anak didiknya tentang Literasi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa lilterasi tidak hanya membaca saja tetapi juga menulis serta menyampaikan apa yang menajdi konteks dari gambar maupun bacaan.

“itulah yang pernah disampaikan mas menteri Nadiem Makarim di dalam sambutan pertamanya sebagai Mendikbud setelah dilantik oleh Presiden Jokowi. Beliau menginginkan anak-anak kita harus memiliki kemampuan mengembangkan pemikiran yang tidak hanya dari sisi manual pemikiran saja. Tetapi sudah mampu menganalisa dan menyimpulkan berbagai kejadian yang ada di lingkungan sekitarnya”. Demikian mantan aktifis PMII ini menegaskan.

Lebih lanjut Sunan menjelaskan, setelah pembekalan ini selesai, pada tanggal 2 dan 3 Juli akan ada pelatihan lagi yaitu Pelatihan Gedsi dan Pola Pikir dalam Belajar yang akan dilaksanakan secara virtual. Pasca pelatihan tersebut, pada tanggal 1 sampai dengan tanggal 20 Agustus, apa yang sudah disampaikan dalam pelatihan, harus dipraktikkan kepada anak usia kelas awal, baik murid di sekolah, anak sendiri, atau mungkin anak orang lain dalam rentang usia kelas bawah. Harapannya adalah apa yang sudah dilatihkan akan terlaporkan, bahwa masing-masing unit telah dilaksanakan oleh Fasda. Setelah dilaporkan, bahwa semuanya telah terlaksana dengan baik, maka tahapan berikutnya akan dilaksanakan program KKG di tempat yang telah ditentukan pada masing-masing sekolah di kabupaten.

Sementara itu, Juprianto selaku education specialist INOVASI Jawa Timur menyampaikan, bahwa program INOVASI yang sedang dilaksanakan ini merupakan upaya dukungan atas program pemerintah yang dijalankan oleh Kemenag dalam hal ini program PKB. Program PKB adalah program Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan yang pendekatannya menggunakan KKG. Pada program Literasi ini akan ada 10 kali KKG dan 10 kali pelaksanaan di kelas yang bersifat pendampingan. Setelah hasil pendampingan akan dibahas lagi ditahapan refleksi dan berbagi.

Mengakhiri sambutannya, Jufri menyampaikan harapannya agar program yang hari ini serta dua hari kedepan yang akan dilaksanakan, bisa membawa manfaat untuk semuanya dan membantu memperbaiki kualitas dunia pendidikan di Indonesia.

Pada sesi akhir pembukaan acara, mewakili Kanwil Kemenag Jatim, Dr. Sugio mengucapkan rasa terimakasihnya kepada semua pihak yang terlibat yang nantinya bersama-sama berupaya mengentas pendidikan di negeri ini. Upaya pengentasan atas ketertinggalan di dunia pendidikan, mau tidak mau harus melibatkan lembaga non pemerintahan (swasta) seperti apa yang telah dilakukan oleh LP. Maarif NU Jawa Timur.

“Faktanya, lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag yang berstatus sekolah Negeri hanya 2,5% selebihnya 97,5% dikelolah oleh swasta. Artinya jika pemerintah hanya mengandalkan lembaga pendidikan negeri, tanpa keterlibatan lembaga pendidikan di luar pemerintah, mustahil kebutuhan akan dunia Pendidikan di Jawa Timur bisa terlayani”. Demikian pungkasnya.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *